Manusia-manusia Trotoar (2)




Pandangannya kosong, namun hatinya terbakar, marah meluap di dadanya. Menukik tajam sampai terbias dalam langkah-langkahnya yang gontai.
Masih memegang minyak tanah dan korek api yang sedari tadi ia bawa. Ia mencari celah untuk berbuat laku amarah. Dari kejauhan terlihat pemilik minimarket menghisap rokok sembari menghitung uang riba hasil jualannya siang tadi. Dilihatnya lagi manusia-manusia buta hati yang tak peduli dengan nyawa  manusia-manusia kecil, di pegang erat korek api dan minyak tanah itu.
“Nyawa itu harus diganti! Aku gak bisa diam!”
Namun sayup-sayup angin hilir mudik, sedang mentari tertunduk pada malam hanyut. Mega merah sangar berani memancar, mistis. Gadis kecil merasakan dekapan angin lembut. Tak terasa ia melangkah ringan ke sebuah sebuah tempat. Sesekali ia buka matanya. Langit magrib itu bersinar, turun secercah cahaya lembut yang gagah. Sayap-sayapnya lebar, putih bersih, lalu hinggap di menara sebuah masjid. Nampak seseorang bapak tua berjubah serba putih, samar-samar memanggil.
“Tinggalkan amarahmu, gadis kecil... Disini adalah jawaban.“ Bapak tua itu memanggil gadis kecil menuju menara masjid. Wajahnya samar, namun suaranya bijak bestari.
Langkah gadis kecil itu terhenti di sebuah pelataran masjid yang damai. Ia mengambil wudhu, tanpa sadar. Lalu ia ambil mukena di sudutnya sembari mengucap nama Tuhannya. Minyak dan korek api yang di pegangnya ia buang ke tempat sampah. Ia shalat 3 rakaat magrib bersama “Bapak Tua” yang samar dalam penglihatannya, sejuk, damai, tenang.
Dan gadis kecil itu tak sadarkan diri, merajut semesta mimpi.
***
Pertama kali ia membuka mata, sebuah sungai terlihat di depannya. Ia terkejut. Di sekelilingnya istana-istana mutiara yang megah berjejer, menara-menaranya menjulang langit, harum semerbak menyebar dari dahan pohon yang hijau, sejuk.
“Engkau temukan jawabannya, gadis kecil?” Seorang Bapak Tua menepuk pundaknya. Gadis kecil itu terkejut.
“Jawaban apa? Aku gak ngerti?” jawabnya lembut.
“Bukan kamu yang membalasnya...  Tuhanmu Yang Maha Penyayang mendengar rintihanmu adik kecil... Dan sekarang Dia-lah yang akan memperingatkan manusia-manusia itu... Dan kamu, tenanglah disini!”
Bapak tua itu berjalan menuju sebuah istana. Ia mengajak gadis kecil menengok kesana, melihat sekeliling tempat yang asing itu. Sesekali gadis kecil melihat ke segala arah sebuah pohon besar yang manaungi ratusan istana emas, dahan-dahannya menutupi langit.
Tiba-tiba gadis kecil bertanya, ”Apa yang akan Tuhan lakukan sekarang? Akankah Dia membinasakan manusia-manusia itu, padahal setahuku Dia Maha Lembut dan Penyayang.”
“Ikuti aku, dan lihatlah kesana!” Bapak Tua menunjukkan tanggannya ke arah sebuah layar luas, lalu suara rintihan terdengar, kemudian tawa girang samar tereka. Di perlihatkan pada gadis kecil semua peristiwa.
“Itu teman-temanmu, mereka semua sama sepertimu lapar, tak punya rumah, mereka menangis merintih meminta bantuan. Tak ada satu pun yang mengganjal perut mereka, ibu-ibu mengemis di trotoar mengharap selembar seribu-an datang dari orang bermobil mewah atau pejalan kaki berdasi yang angkuh.”
Kemudian peristiwa demi peristiwa terganti diperlihatkan tawa serakah penguasa mungkar yang menindas gadis kecil dan teman-temannya.
“Kau lihat adik kecil, lelaki gemuk yang mengusirmu dan ibumu. Lihatlah manusia-manusia yang tidak lagi peduli dan tak memanusiakan manusia-manusia, pemimpin-pemimpin negerimu yang tak peduli denganmu dan teman-temanmu.
Aku tahu, Tuhan kita maha penyayang, namun Dia tidak suka dengan orang-orang zalim itu. Maka Dia, Allah... Allah memberikan peringatan kepada mereka, agar mereka sadar! Agar mereka mengerti! Bukan korek dan minyak tanahmu yang akan menghukum mereka... tapi...”
“Tapi apa?” tanya gadis kecil kebingungan. Sebelum bapak tua itu menjawab, tiba-tiba langit redup. Seakan mau runtuh. Dari salah satu sudut langit muncul pasukan malaikat berjubah hitam garang dan wajahnya penuh amarah. Mereka turun menembus langit dan meruntuhkan istana-istana mutiara, menumbangkan, meluluhlantahkan segalanya. Mereka terbang melesat cepat menuju suatu tempat, suatu tempat...
TEMPAT YANG TELAH DI TENTUKAN!!
Gadis kecil berlari, pandangannya kabur, tubuhnya lemas, Ia bingung mau lari kemana. Sayup-sayup sang bapak tua berkata
“Tanah akan tergoncang, lautan akan meluap, gunung-gunung akan lepas dari daratan!”
Lalu sang bapak tua pergi menjauh, semakin jauh, tak lagi terlihat. Gadis kecil hilang arah, hilang kesadaran dan semua menjadi gelap.
Daratan rata meronta-ronta. Gadis kecil bangun dari mimpi panjangannya meraba cahaya dari keruntuhan masjid. Ia bingung dengan apa yang terjadi, namun keingintahuannya memaksa kakinya melangkah menuju keluar. Dari kejauhan orang-orang berseragam Palang Merah berteriak, ”Kesana! Ada orang yang masih hidup!” Beberapa petugas tim SAR berlari menuju gadis kecil .
“Apa yang terjadi, Pak?! Ada apa?!” , gadis kecil ketakutan. Mereka tak menghiraukan pertanyaannya. Langsung menggendong gadis kecil ke sebuah helikopter untuk dibawa ke pusat pertolongan.
“Tadi malam sebuah bencana besar melanda kota ini, hanya di sini.” Salah seorang co-pilot nampak berbincang.
“Mungkin Tuhan telah memperingatkan seseorang.” Salah seorang menyahut, sambil melihat gadis kecil.
Si gadis kecil terbingung bingung karena orang yang ia lihat sama seperti sang bapak tua yang ada di mimpinya.
“Bagaimana gadis kecil, kau dan korek apimu, atau Tuhanmu dengan ribuan malaikatnya?”
Ia tersenyum datar.
***

Buletin Al-I'lan/edisi 2/Mei 2012 - Edgar Hamas
Previous
Next Post »